Toddler adalah anak adalah anak anatara rentang usia 12 sampai 36 bulan. Toddler tersebut ditandai dengan peningkatan kemandirian yang diperkuat dengan kemampuan mobilitas fisik dan kognitif lebih besar. Perkembangan ketrampilan motorik yang cepat membolehkan anak untuk berpartisipasi dalam tindakan perawatan diri sendiri seperti makan, berpakaian dan eliminasi. Pada awal toddler berjalan dalam posisi tegak dengan sikap papan berjalan, abdomen menonjol, dan lengan berada diluar sisi untuk keseimbangan. Segera anak mulai mengemudikan kursi, menggunakan pegangan atau dinding untuk mempertahankan keseimbangan sambil meninggikan, menempatkan kaki pada langkah yang sama sebelum melanjutkan langkah. Keberhasilan memberikan dorongan untuk mencoba cara yang lebih tegak untuk mengalihkan kursi dengan cara yang sama. Ketrampilan daya gerak segera meliputi berlari, melompat, berdiri satu kaki beberapa detik, dan menendang bola

Kemampuan motorik halus meningkat dari menggambar lingkaran secara spontan sampai menggambar garis silang dengan benar. Pada usia tiga tahun, anak menggambar orang kayu sederhana dan biasanya dapat menumpuk kotak-kotak kecil menjadi menara. Peningkatan ketrampilan daya gerak, kemampuan untuk melepas pakaian, dan perkembangan control sfingter memungkinkan anak untuk toilet training jika toddler telah mengembangkan kemampuan kognitif yang penting. Orangtua sering konsultasi pada perawat untuk pengkajian kesiapan toilet training.

Anak toddler memiliki beberapa ciri dan tuntutan perkembangan antara lain:

  • Selalu ingin mencoba apa yang bisa dilakukan
  • Menuntut dan menolak apa yang ia mau atau yang mereka tidak mau
  • Tertanam perasaan otonomi

Dalam mengasuh anak toddler peran orang tua sangat menentukan sikap anak di saat ia mulai tumbuh dan berkembang pra sekolah, sekolah, remaja dan dewasa. Beberapa sikap yang seharusnya orang tua lakukan dalam medidik anak toddler :

  • Berikan kesempatan pada anak untuk bergerak bebas, namun tetap awasi anak dari bahaya
  • Usahakan agar anak mau bermain dengan anak lain, agar nantinya ia bisa bersosialisasi
  • Bila berbicara dengan anak, gunakan kalimat pendek dan sederhana agar anak mudah mengerti
  • Ajarkan untuk membereskan mainannya setelah bermain, tujuannya mengajarkan anak untuk bertanggung jawab

Anak toddler memiliki karakteristik khusus dibandingkan tingkat perkembangan yang lainnya. Karakteristik tersebut adalah:

  • Sibling Rivalry (kecemburuan antara saudara)
  • Tempertantrum (ledakan kemarahan yang secara tiba-tiba)
  • Negativisme (penolakan)

Sibling Rivalry

Sibling rivalry adalah kecemburuan, persaingan dan perkelahian antara saudara, baik itu saudara kandung maupun bukan saudara kandung. Hal ini sangat umum terjadi pada keluarga dengan anak lebih dari satu atau ada saudara lain dalam satu rumah. Sibling rivalry sangat membutuhkan kebijakan orang tua dalam menyikapinya, karena kecemburuan dapat berlanjut hingga dewasa bila tidak disikapi dengan bijak.

Beberapa penyebab dasar yang dapat menimbulkan terjadinya sibling rivalry:

  • Kelahiran bayi baru

Jelas ini secara otomatis perhatian yang sebelunya banyak tercurah atau tertuju pada anak pertama akan beralih pada si bayi, dan sang kakak akan merasa tersisih dan dirugikan.

  • Protes Kakak

Sang kakak dalam memperebutkan dan memenangkan persaingan untuk merebut perhatian orang tuan tentu akan menggangu sang adik.

  • Kemarahan Orang Tua

Orang tua yang memarahi sang kakak dalam beberapa kasus hanya akan tertuju pada sang kakak, tanpa menyadari si kakak akan merasa sedih. Dengan hubungan seperti ini hanya akan menambah kakak bertambah benci pada sang adik.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sibling rivalry :

  • Anak-anak saling berkompetisi untuk menunjukkan bahwa mereka bisa lebih baik dari saudaranya
  • Anak-anak merasa mendapatkan perhatian dan penerimaan yang tidak sama dengan saudaranya
  • Anak-anak mungkin merasa hubungan dengan orang tuan mereka semakin jauh dengan kehadiran saudaranya
  • Anak-anak mungkin tidak tahu cara yang baik untuk memperoleh perhatian saudaranya
  • Anak-anak yang marah, bosa, atau lelah mudah untuk memulai perkelahian
  • Stres yang dialami orang tua akan menurunkan perhatian untuk anak-anak dan ini akan meningkatkan sibling rivalry
  • Stres yang dialami anak-anak akan menimbulkan banyak masalah
  • Cara orang tua mendidik dan melatih anak-anak untuk menyelesaikan masalah akan membuat perbedaan yang besar dalam terjadinya sibling rivalry

Cara Mengatasi Sibling Rivalry

  1. Orang tua jangan campur tangan langsung, campur tangan langsung diperlukan saat terdapat tanda-tanda akan terjadinya kekerasan fisik.
  2. Pisahkan keduanya hingga masing-masing tenang, lalu suruh mereka kembali dengan sedikitnya satu ide tentang cara menyelesaikan masalah hingga tidak akan terulang lagi.
  3. Tidak penting siapa yang memulai masalah, karena anda tidak mungkin menemukan anak mana yang bersalah, karena tak satupun dari mereka yang 100% benar ataupun salah.
  4. Jika anak-anak selalu memperebutkan benda yang sama, misalnya mereka rebutan TV, ajaklah mereka dan ajari membuat jadwal daftar TV
  5. Bantu anak-anak mengembangkan ketrampilan dan menyelesaikan masalah sendiri tanpa kekerasan
  6. Ajarkan anak bagaimana cara berkompromi, menghormati orang lain dan memutuskan sesuatu secara adil
  7. Jangan berteriak-teriak pada anak-anak
  8. Ajaklah setiap anak untuk mengungkapkan perasaan mereka tentang saudaranya, misalnya rasa marah dan kecewa. Hal ini akan membantu mereka untuk mengenali emosi negatif dan mengatasinya dikemudian hari
  9. Tidak peru berargumen bahwa anda sudah bersikap adil, karena sebesar apapun usaha anda, anak-anak tetap menemukan ketidakadilan dari perlakuan anda

Sibling rivalry juga dapat dikurangi kemungkinan terjadinya dengan mengajarkan anak untuk memperlakukan saudara kandungnya seperti teman, yaitu dengan cara :

1. Persiapkan sebelum kelahiran

Persiapkan kepada si kakak bahwa dia akan mempunyai adik baru, yang akan menemaninya bermain ketika sudah besar nanti. Ajari dia untuk menyayangi adiknya sebelum adiknya lahir. Biarkan dia menepuk” perut ibu dan mengelusnya dengan sayang sambil pura” sedang menyayangi adiknya. Biarkan dia menciumi adiknya dan ngobrol dengannya. Ajari dia akan beberapa manfaat jika adiknya sudah lahir nanti.

2. Buat si kakak merasa berharga

Saat datang pengunjung yang membawakan hadiah kepada si adik baru, libatkan kakak dalam aktivitas ‘terima hadiah’ ini. Jika dia mengatakan bahwa para hadiah itu untuknya, jangan ditentang. Katakan bahwa hadiah” itu untuk semua anak ibu : kakak dan adiknya. Biarkan kakak merasakan senangnya diberi hadiah dengan menerimanya dan membuka bungkus kadonya serta menatanya.

3. Berbagi Waktu

Hal yang paling menjengkelkan bagi seorang anak adalah ketika dia harus membagi ibunya kepada adik barunya. Karena selama ini ibu adalah miliknya semata. Bisa saja kita katakan kepadanya bahwa kita akan membagi waktu kita bersamanya secara adil, walaupun pada praktiknya itu tidak akan mungkin terjadi. Oleh karena itu, siasatilah kegiatan bersama si kecil dan kakaknya. Buatlah waktu bersama dengan anak” kita. Sementara kita menyusuinya misalnya, kita bisa sambil mendongengi si kakak atau mengajarinya belajar. Atau sambil menyuapi si adik, kita bisa sambil menemani kakak bermain. Atau ajak kakak untuk bermain bersama dengan adiknya.

4. Ajarkan anak untuk mendapatkan hal lain yang lebih positif

Anak” yang memang sedang dalam taraf egosentris sering akan berpikir ‘Apa yang akan kudapatkan dengan hadirnya adik baru?’. Ketika dia mendapati bahwa kemudian ternyata yang dijumpainya adalah ibunya yang mempunyai sedikit waktu untuk dirinya, ajarkan kepadanya untuk mendapatkan ‘waktu spesial’. Waktunya yang hilang dengan dengan ibunya mungkin bisa digantikan dengan perhatian yang lebih besar dari ayahnya atau anggota keluarga yang lainnya. Mintalah ayah atau anggota keluarga yang lain untuk mengajak kakak jalan” keluar dan memberinya sedikit kebebasan untuk memilih es krim misalnya. Katakan kepadanya bahwa ini adalah ‘waktu spesial’ yang bisa didapatnya dengan kehadiran adiknya.

5. Awali hari dengan harmoni

Jika memungkinkan, awali hari ibu dengan bercanda bersama si kakak selama menit” pertama. Sisihkan 10 – 20 menit untuk bercanda dengannya. Ini akan memberikan kepercayaan kepadanya bahwa dia tidak kehilangan waktu bersama ibunya.

6. Tingkatkan sensitivitas terhadap saudara kandung

Belajar hidup bersama dalam satu keluarga adalah pelajaran pertama seorang anak untuk bisa bergaul dengan anak-anak lainnya. Orang tua adalah fasilitator dalam menciptakan kondisi yang membantu perkembangan hubungan yang rukun di antara anak-anak mereka.Beberapa hubungan yang bisa kita coba fasilitasi :

  • sebagai pengawas

Jika usia anak-anak  berbeda beberapa tahun, berikan pada anak yang lebih tua tanggung jawab untuk menjadi ‘supervisor’ saudara-saudara yang lebih muda usianya. Hal ini akan memotivasinya untuk bersikap peduli, dan anak yang lebih muda juga akan merasakannya.

  • sebagai penolong

Jika si adik atau kakak sedang terluka, libatkan saudaranya untuk membantu kita menolongnya atau menjadi ‘asisten’ kita dalam memberikan pertolongan kepada saudaranya itu

  • sebagai wali

Jika si kakak atau adik terluka, baik fisik atau mental, ajari saudaranya untuk bisa merasakan luka itu dan sarankan dia untuk menghiburnya. Pengalaman saya, biasanya jika si kakak sakit dan menangis, maka otomatis si adik akan mengelus” rambutnya dan menghiburnya. Saya ajarkan juga sebaliknya jika adik sakit, dia akan datang ke kakaknya untuk mengadu.

  • sebagai guru

Seorang anak biasanya akan senang sekali jika dipercaya untuk mengajari adiknya. Ini tentu dalam hal apa saja.

  • sebagai rekan setim

Berikan suasana bermain anak” sebagai rekan setim. Misalnya dengan mengajari anak” membereskan mainannya berdua, memberi makan binatang peliharaannya bersama, dan lain”.

  • sebagai penghibur

Pada dasarnya setiap orang bisa menjadi penghibur bagi orang lain. Sementara kita mengerjakan pekerjaan kita, tidak ada salahnya kita percayakan si anak menghibur saudaranya.

Tempertantrum

Tempertantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa terencana. Pada anak-anak, ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari orang dewasa saja. Ketika mengalami tantrum, anak-anak cenderung melampiaskan segala bentuk kemarahannya. tantrum (baca: marah-marah) pada anak-anak hanya terjadi sekitar 30 detik sampai 2 menit saja. Tapi, jika kemarahan berlanjut sampai pada tingkat yang membahayakan dirinya atau orang lain, maka ini bisa menjadi hal yang sangat serius.

Temper tantrum biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun. Meski tidak menutup kemungkinan anak-anak yang lebih tua, bahkan orang dewasa pun pernah mengalami ledakan kemarahan ini. Dan pada dasarnya, marah-marah pada anak-anak usia 1-4 tahun adalah hal yang wajar terjadi bagi usia mereka. Kebanyakan anak-anak mengalami hal ini.

Temper tantrum biasa terjadi karena beberapa hal pemicu. Diantaranya adalah:

1. Frustrasi.

Jangan dikira hanya orang dewasa saja yang bisa frustrasi. Anak-anak pun mengalami hal ini. Misalnya, anak-anak akan menjadi cepat marah manakala mereka tidak bisa mencapai sesuatu yang sangat mereka inginkan. Dalam artian, mereka gagal. Kegagalan memicu rasa frustrasi, dan akhirnya kemarahan itupun meledak.

2. Lelah

Anak-anak yang kelelahan, akan menjadi mudah marah. Aktivitasnya yang padat dan sedikit waktu bermain akan membuat anak-anak cepat marah dan emosi.

3. Orangtua terlalu mengekang

Sikap orangtua yang terlalu banyak mendikte dan mengekang anak, juga dapat berpengaruh bagi emosinya. Anak-anak yang merasa jenuh dengan kekangan orangtuanya, suatu saat akan mencapai titik puncak kejenuhan. Dan marah-marah adalah salah satu bentuk ledakan tersebut.

4. Sifat dasar anak yang emosional.

Beberapa anak mewarisi sifat dasar emosional dari orangtuanya. Mereka ini cenderung tidak sabaran, gampang marah meski karena hal-hal kecil.

5. Keinginan tak dipenuhi.

Salah satu kesalahan yang sering kali dilakukan orangtua adalah mereka begitu mudahnya membujuk anak-anak dengan iming-iming. Menangis sedikit, anak dibujuk dengan es krim atau mainan. Nah, akhirnya ini akan menjadi kebiasaan, dan anak-anak mengenali pola ini. Suatu ketika, ia memiliki keinginan akan sesuatu, ia akan menangis dan mengamuk jika keinginan tersebut tidak segera dipenuhi oleh orangtuanya.

Menurut Martina Rini S. Tasmin, ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Tantrum. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Terhalangnya keinginan anak mendapatkan sesuatu.Setelah tidak berhasil meminta sesuatu dan tetap menginginkannya, anak mungkin saja memakai cara Tantrum untuk menekan orangtua agar mendapatkan yang ia inginkan
  2. Ketidakmampuan anak mengungkapkan diri. Anak-anak punya keterbatasan bahasa, ada saatnya ia ingin mengungkapkan sesuatu tapi tidak bisa, dan orangtuapun tidak bisa mengerti apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat memicu anak menjadi frustrasi dan terungkap dalam bentuk Tantrum.
  3. Tidak terpenuhinya kebutuhan. Anak yang aktif membutuh ruang dan waktu yang cukup untuk selalu bergerak dan tidak bisa diam dalam waktu yang lama. Kalau suatu saat anak tersebut harus menempuh perjalanan panjang dengan mobil (dan berarti untuk waktu yang lama dia tidak bisa bergerak bebas), dia akan merasa stres. Salah satu kemungkinan cara pelepasan stresnya adalah Tantrum Pola asuh orangtua
  4. Anak merasa lelah, lapar, atau dalam keadaan sakit.
  5. Anak sedang stres (akibat tugas sekolah, dll) dan karena merasa tidak aman (insecure).

Sedangkan Rina M. Taufik menambahkan tentang penyebab tantrum ini antara lain :
1. Terlalu lelah

Jangankan anak, orang tua pun sama jika kondisi kita sedang lelah kita sulit untuk mengendalikan emosi kita, oleh karena itu jangan biarkan anak terlalu lelah, pastikan anak cukup tidur dan makan. Jika anak terlihat tegang ajarkan relaksasi dengan cara menarik nafas atau mengajaknya bercanda

2. Keinginan tidak terpenuhi

Balita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, eksplorasi, gemar bertanya tentang ini dan itu, dan keinginan untuk selalu mencoba banyak hal termasuk keinginan-keinginan yang tidak masuk akal. merupakan ciri utama masa kanak-kanak. Kadang-kadang ada permintaan atau keinginan – keinginan yang sulit dikabulkan, sehingga memicu anak untuk temper tantrum

3. Frustasi

Gagal melakukan sesuatu akan membuat anak-anak kecewa dan memicu meraka untuk mengamuk

4. Keterbelakangan Mental

Anak yang mengalami keterbelakangan mental misalnya anak dengan gangguan bicara, pada saat ia kesulitan mengungkapkan keinginannya, ia pun akan temper tantrum

5. Ada contoh (melihat orang lain)

Orang yang terdekat dengan anak tentunya akan menjadi rujukan mereka dalam bersikap, misalnya orang tua yang tidak bisa mengendalikan emosi, mudah marah dalam menghadapi masalah akan membuat anak-anak mencontoh perilaku kita

6. Faktor kondisional

Situasi yang sangat tidak menyenangkan yang dialami anak misalnya seperti kesal dengan teman yang sering meledek, atau keasyikan bermain terganggu karena orang tua memaksa melakukan sesuatu

Tindakan

Dalam buku Tantrums Secret to Calming the Storm (La Forge: 1996) banyak ahli perkembangan anak menilai bahwa Tantrum adalah suatu perilaku yang masih tergolong normal yang merupakan bagian dari proses perkembangan, suatu periode dalam perkembangan fisik, kognitif dan emosi anak. Sebagai bagian dari proses perkembangan, episode Tantrum pasti berakhir.

Beberapa hal positif yang bisa dilihat dari perilaku Tantrum adalah bahwa dengan Tantrum anak ingin menunjukkan independensinya, mengekpresikan individualitasnya, mengemukakan pendapatnya, mengeluarkan rasa marah dan frustrasi dan membuat orang dewasa mengerti kalau mereka bingung, lelah atau sakit.

Namun demikian bukan berarti bahwa Tantrum sebaiknya harus dipuji dan disemangati (encourage). Jika orangtua membiarkan Tantrum berkuasa (dengan memperbolehkan anak mendapatkan yang diinginkannya setelah ia Tantrum, seperti ilustrasi di atas) atau bereaksi dengan hukuman-hukuman yang keras dan paksaan-paksaan, maka berarti orangtua sudah menyemangati dan memberi contoh pada anak untuk bertindak kasar dan agresif (padahal sebenarnya tentu orangtua tidak setuju dan tidak menginginkan hal tersebut). Dengan bertindak keliru dalam menyikapi Tantrum, orangtua juga menjadi kehilangan satu kesempatan baik untuk mengajarkan anak tentang bagaimana caranya bereaksi terhadap emosi-emosi yang normal (marah, frustrasi, takut, jengkel, dll) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang merasakan emosi tersebut.

Pencegahan

a)    Mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti pada kondisi-kondisi seperti apa muncul Tantrum pada si anak.
Misalnya, kalau orangtua tahu bahwa anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak Tantrum, orangtua perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.
Tantrum juga dapat dipicu karena stres akibat tugas-tugas sekolah yang harus dikerjakan anak. Dalam hal ini mendampingi anak pada saat ia mengerjakan tugas-tugas dari sekolah (bukan membuatkan tugas-tugasnya lho!!!) dan mengajarkan hal-hal yang dianggap sulit, akan membantu mengurangi stres pada anak karena beban sekolah tersebut. Mendampingi anak bahkan tidak terbatas pada tugas-tugas sekolah, tapi juga pada permainan-permainan, sebaiknya anak pun didampingi orangtua, sehingga ketika ia mengalami kesulitan orangtua dapat membantu dengan memberikan petunjuk.

b)     Melihat bagaimana cara orangtua mengasuh anaknya. Apakah anak terlalu dimanjakan? Apakah orangtua bertindak terlalu melindungi (over protective), dan terlalu suka melarang? Apakah kedua orangtua selalu seia-sekata dalam mengasuh anak? Apakah orangtua menunjukkan konsistensi dalam perkataan dan perbuatan?

Jika anda merasa terlalu memanjakan anak, terlalu melindungi dan seringkali melarang anak untuk melakukan aktivitas yang sebenarnya sangat dibutuhkan anak, jangan heran jika anak akan mudah tantrum jika kemauannya tidak dituruti. Konsistensi dan kesamaan persepsi dalam mengasuh anak juga sangat berperan. Jika ada ketidaksepakatan, orangtua sebaiknya jangan berdebat dan beragumentasi satu sama lain di depan anak, agar tidak menimbulkan kebingungan dan rasa tidak aman pada anak. Orangtua hendaknya menjaga agar anak selalu melihat bahwa orangtuanya selalu sepakat dan rukun.

Jika Tantrum tidak bisa dicegah dan tetap terjadi, maka beberapa tindakan yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah:

  1. Memastikan segalanya aman. Jika Tantrum terjadi di muka umum, pindahkan anak ke tempat yang aman untuknya melampiaskan emosi. Selama Tantrum (di rumah maupun di luar rumah), jauhkan anak dari benda-benda, baik benda-benda yang membahayakan dirinya atau justru jika ia yang membahayakan keberadaan benda-benda tersebut. Atau jika selama Tantrum anak jadi menyakiti teman maupun orangtuanya sendiri, jauhkan anak dari temannya tersebut dan jauhkan diri Anda dari si anak.
  2. Orangtua harus tetap tenang, berusaha menjaga emosinya sendiri agar tetap tenang. Jaga emosi jangan sampai memukul dan berteriak-teriak marah pada anak.
  3. Tidak mengacuhkan Tantrum anak (ignore). Selama Tantrum berlangsung, sebaiknya tidak membujuk-bujuk, tidak berargumen, tidak memberikan nasihat-nasihat moral agar anak menghentikan Tantrumnya, karena anak toh tidak akan menanggapi/mendengarkan. Usaha menghentikan Tantrum seperti itu malah biasanya seperti menyiram bensin dalam api, anak akan semakin lama Tantrumnya dan meningkat intensitasnya. Yang terbaik adalah membiarkannya. Tantrum justru lebih cepat berakhir jika orangtua tidak berusaha menghentikannnya dengan bujuk rayu atau paksaan. Jadi selama anak belum tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya anda mengatakannya tanpa emosi ataupun bernada memarahinya.
  4. Jika perilaku Tantrum dari menit ke menit malahan bertambah buruk dan tidak selesai-selesai, selama anak tidak memukul-mukul Anda, peluk anak dengan rasa cinta. Tapi jika rasanya tidak bisa memeluk anak dengan cinta (karena Anda sendiri rasanya malu dan jengkel dengan kelakuan anak), minimal Anda duduk atau berdiri berada dekat dengannya. Selama melakukan hal inipun tidak perlu sambil menasihati atau complaint (dengan berkata: “kamu kok begitu sih nak, bikin mama-papa sedih”; “kamu kan sudah besar, jangan seperti anak kecil lagi dong”), kalau ingin mengatakan sesuatu, cukup misalnya dengan mengatakan “mama/papa sayang kamu”, “mama ada di sini sampai kamu selesai”. Yang penting di sini adalah memastikan bahwa anak merasa aman dan tahu bahwa orangtuanya ada dan tidak menolak (abandon) dia.

Namun jika anak anda termasuk tipe yang lebih bisa untuk diajak kooperatif dan mudah dibujuk ,: Rina M. Taufik memberikan alternatif saat anak mengalami tantrum, antara lain:

  • Hadapi dengan tenang

Hadapi anak dengan tenang, kendalikan emosi kita (….ingat kita sedang berhadapan dengan anak yg akan meniru prilaku kita…)

  • Abaikan amukan anak

Buatlah anak sadar bahwa perbuatannya sia-sia (dicuekin gitu lho…..) ketika kita membiarkannya jangan sekali-kali melihat kearahnya, karena satu lirikan saja tertangkap oleh anak bias menjadi alas an bagi anak untuk meningkatkan intensitas amukannya, jadi berlagaklah tak acuh.

  • Ulangi perintah/ memperjelas perintah

Hentikan amukan anak dengan memperjelas dan mengulang perintah, mungkin tangisan anak akan mengeras tapi jangan pedulikan tangisannya, misalnya jika kamu mau ikut ibu, mandi dulu …atau hentikan dulu tangisanmu….(jika penyebabnya anak ingin ikut ibu….)

  • Gunakan time out

Dudukkan anak di kursi/ sudut ruangan dan sebelumnya katakan “kamu boleh ngamuk tapi kalau kesal ibupun boleh mengamuk seperti kamu, diamlah…) lalu awasi dari kejauhan reaksinya.

  • Pegang dan peluk

Seringkali anak mengamuk dengan melakukan hal yang berbahaya, bagi dirinya maupun orang lain, peluklah anak dari belakang dan segera bawa ke tempat yang tenang dan aman. Begitup anak mengendurkan agresivitasnya kita pun kendurkan pelukan kita, kemudian ajaklah ia bicara dari hati ke hati dengan suara yang rendah dan lembut, hendari kata-kata mengancam.

  • Lebih mendekatkan diri pada anak

Bila anak nampak sedih, kecewa dan frustasi berilah saran tentang jalan keluar masalahnya dan biarkan ia menentukan yang mana yang akan ia ambil

  • Perkuat dengan hadiah/beri penghargaan

Beri anak perlakuan ekstra jika berkelakuan manis namun hindari kata-kata baguslah kamu tidak mengamuk..” tapi katakan “ Ibu senang kamu mau mendengarkan ibu…oleh karena itu ambillah es krim ini”

  • Ajak anak bicara dari hati ke hati

Berbicaralah dengan anak, sampaikan bagaimana perasaan kita dan terhadapnya dan gambarkan bagaimana perasaan kita dan dia ketika mengamuk

  • Ajarkan anak bicara dengan dirinya sendiri

Ajarkan anak untuk menetralkan amarah dengan cara berkata-kata pada diri sendiri tentang kemarahannya dan bagaimana ia mengendalikannya misalnya “..Tono memang menyebalkan tapi tak apalah mungkin ia habis dimarahi bapaknya…”

  • Lupakan anak pernah mengamuk

Ajaklah anak bermain kembali seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa, tak usah menyebut-nyebut amukannya.

Ada beberapa kiat yang bisa kita gunakan untuk mengatasi anak mengamuk :

1. Cari tahu penyebabnya.

Dengan mengetahui penyebab anak-anak mengamuk, kita akan mudah menentukan langkah yang harus kita ambil dalam menghadapi mereka.

2. Jangan ikut emosi.

Biasanya, orangtua akan ikut-ikutan menjadi emosi manakala anak mereka mengamuk. Orangtua bisa memukul, mencubit, dsb. Apakah itu solusi? Tidak. Anak-anak bukannya akan belajar mengatasi kemarahan mereka, tapi malah semakin menganggap orangtuanya jahat.

3. Abaikan dan ajari anak mengatasi kemarahannya.

Jangan turuti semua hal yang diinginkan pada saat itu juga. Bersikap cuek dan tidak memperdulikan kemarahannya, sebenarnya adalah cara yang sangat jitu untuk membuatnya tahu, bahwa kemarahannya tidak bisa membeli keinginannya. Katakan padanya, bahwa hanya anak-anak yang menyampaikan keinginan dengan cara yang baiklah yang akan mendapatkan keinginannya itu dari Anda. Bukan dengan amukan, tangisan, bahkan berguling-guling. Sikap tegas dan konsistensi Anda dengan sikap ini akan membuatnya berlatih lebih disiplin.

4. Sudut diam.

Dalam artian, bukan mengurung anak di kamar mandi atau di gudang. Tidak perlu main kunci pintu atau rantai. Cukup sediakan sebuah kursi yang Anda sebut sebagai kursi diam. Saat mengamuk, dudukkan anak disana, dan ia tidak boleh kemana-mana sampai ia bisa menenangkan diri. Boleh juga meminta anak untuk masuk ke kamarnya sendiri dan menenangkan diri. Ia boleh keluar dan kembali menyapa Anda setelah ia tenang.

Normalnya, memasuki usia 5 tahun, saat anak-anak mulai bersekolah dan bergaul dengan teman sebayanya, mereka telah mulai dapat mengatasi gejolak emosi mereka. Sesekali mungkin marah, tapi, mereka lebih bisa menahan diri. Jika dalam waktu bertahun-tahun di masa sekolah mereka belum juga bisa mengatasi permasalahan ini, ini kemungkinan besar menunjukkan bahwa anak-anak bermasalah dalam emosinya. Bisa jadi, karena kesulitan belajar atau kesulitan bergaul dengan lingkungannya. Dan Anda butuh untuk berkonsultasi pada ahlinya untuk mengatasi masalah ini.
Berikut adalah tips mengatasi temper tantrum anak (sumber Koran Tempo, 1 April 2007)

  1. tetap tenang. Beri anak waktu menguasi diri nya sendiri
  2. jangan hiarukan anak hingga dia bisa lebih tenang
  3. lakukan apapun yang sedang anda lakukan selama masa tantrum berlangsung
  4. jangan memukul atau melakukan hukuman fisik apapun
  5. jangan menyerah pada tantrum anak, begitu menyerah mereka akan belajar mempergunakan perilaku tak pada tempatnya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan
  6. jangan menyuap anak dengan hadiah untuk menghentikan tantrum. Anak-anak akan belajar bertindak tak semestinya untuk mendapatkanya
  7. singkirkan barang-barang yang berpotensi bahaya dari jangkuan anak-anak

Negativisme

Setiap anak akan mengalami fase negativisme yang ditunjukkan dengan perilaku penolakan dan membangkang. Negativisme adalah fase normal yang dilalui setiap anak. Sikap ini biasanya muncul pada usia 2-3 tahun. Cirinya adalah respon negative anak pada segala sesuatu. Anak akan selalu berkata “tidak” dengan segala sesuatu yang ditawarkan atau diperintahkan padanya.

Sikap ini bukanlah ekspresi dari keras kepala atau tidak hormat tapi kebutuhan untuk mengendalikan sesuatu atau menunjukkan keinginan untuk independent. Jadi anak toddler umumnya ditandai dengan “AKU”, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya “power”. Orang tua ingin apapun keinginan dan perintahnya akan dipatuhi oleh anak, sehingga kadang malah menimbulkan sikap oposisi pada anak.

Sikap-sikap memaksa yang dilakukan orang tua justru hanya memperburuk keadaan. Anak akan semakin keras dan menentang. Misalnya realisasinya anak malah akan melakukan penolak terhadap makanan tertentu. Tidak heran jika ada orang dewsa yang tidak mau makan nasi atau sayur. Bisa jadi karena trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.

Dalam usahanya untuk mengontrol, anak suka membuat pilihan. Orang tua bisa memberikan pilihan untuk anak “kamu boleh makan permen atau agar-agar”. Kalau respon anak tetap negative, orang tua harus tetap tenang dan bersikap menenangkan.

Toddler suka bermain dan tantangan. Ketika kita ingin memerintahkan sesuatu seperti “pakai sepatumu”, toddler akan berespon dengan cepat jika ditantang dengan “ayo kita balapan, siapa yang? akan selesai pakai sepatu duluan”. Aturan pentingnya adalah biarkan anak menang.

Pendekatan lainnya adalah sambil bercanda, pekerjaan selesai tanpa kemarahan dan frustasi dengan metode ini. Kalau anak menolak untuk memakai sepatunya, orang tua bisa berespon dengan, berpura-pura mencoba meakai sepatu tersebut, berpura-pura memaksa sepatu itu masuk ke kaki kita, permainan ini akan berakhir dengan penolakan anak “jangan, itu sepatu aku” dan kemudian dia memakainya.

Cara mengatasi negativisme antara lain :

  • Hindari terlalu banyak menggunakan kata “tidak” atau “jangan”. Untuk melarang anak sebaiknya pilih kata positif. Contoh, “Sayang, kita main air di kamar mandi yuk sekalian mandi sore”, ketimbang, “Mama kan sudah bilang, jangan main air kran. Basah semua deh.”
  • Beri kesempatan pada anak untuk melakukan apa yang diinginkannya tentu saja sejauh tidak membahayakan tapi tetap dengan pendampingan. Misal, anak ingin membantu menyiram tanaman, sediakan gembor/gayung kecil, lalu ajari anak bagaimana menyiram tanaman dengan air secukupnya.
  • Biasakan mengajak anak berdialog sejak kecil, meski perkembangan bahasanya masih terbatas. Misalnya, anak menolak permintaan orangtua, tanyakan mengapa ia tidak mau, pancing jawabannya lalu coba arahkan bagaimana seharusnya. Terlebih di usia prasekolah, umumnya penolakan anak disertai dengan alasan. Contoh, “Aku enggak mau makan. Sayurnya pahit.” Ini karena kemampuan kognitif dan bahasa anak sudah semakin berkembang, demikian juga kemampuan sosialnya. Pada usia ini anak semakin menyadari bahwa mereka dapat bertindak secara mandiri, sesuai keinginannya. Dengan kata lain anak mulai menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan (power) untuk bertindak sesuai kehendaknya.
  • Berikan pilihan terbatas. Misal, anak tidak mau segera tidur, orangtua bisa menggunakan kata, “Adek mau gosok gigi dulu atau ganti baju dulu baru tidur?” Dengan begitu anak merasa dilibatkan saat pengambilan keputusan.
  • Hindari ancaman/paksaan. Selain membuatnya makin menolak, jadi anak belajar bahwa segala hal bisa diselesaikan dengan ancaman/paksaan bukan dengan dialog dan saling mendengarkan.

KESIMPULAN

Anak toddler memiliki karakteristik khusus dibandingkan anak tingkat perkembangan lainnya. Karakteristik tersebut antara lain sibling rivalry, tempertantrum dan negativisme. Sibling Rivalry  merupakan suatu reaksi kecemburuan terhadap saudara baik saudara kandung maupun bukan saudara kandung. Sibling rivalry dipengaruhi faktor – faktor seperti anak ingin saling bekompetensi untuk menunjukkan mereka lebih baik, anak merasa mendapat perhatian dan perlakuan yang tidak sama dengan saudranya. Untuk mengatasi hal ini orang tua harus bersikap bijaksana.

Tempertantrum merupakan ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba – tiba. Hal – hal yang memicu tempertantrum adalah frustasi, lelah, kekangan orang tua, sifat dasar anak yang emosional dan keinginan anak yang tak dipenuhi. Untuk mengatasi tempertantrum yang harus dilakukan adalah cari tahu penyebab anak mengamuk, jangan ikut emosi saat anak mengamuk, abaikan dan ajari anak mengatasi kemarahannya.

Negativisme adalah reaksi penolakan yang bukan merupakan ekspresi keras kepala atau tidak hormat melainkan kebutuhan untuk mengendalikan sesuatu atau menunjukkan keinginan untuk independent. Pada anak yang mengalami negativisme orang tua seharusnya menghindari kata “tidak” ataupun “jangan”. Berikan anak melakukan apa yang ia mau sejauh tidak membahayakan dirinya sendiri ataupun orang lain.

Untuk itu pada anak toddler seharusnya biarkan ia mengalami semua proses atau karakteristik tersebut namun tetap awasi agar tidak terjadi hal yang membahayakan. Semua proses diatas merupakan hal yang normal terjadi selama tidak berlebihan, karena proses tersebut merupakan proses tumbuh dan kembang anak.